Sunday, 18 May 2014

Fundamentalisme : Dalam Perspektif Islam





Fundamentalisme merupakan fahaman atau pemikiran yang berupaya mengembalikan kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar atau asas-asas. Secara etimologi fundamentalisme berasal dari kata fundamental yang bererti hal-hal yang mendasar atau asas-asas. Sebagai sebuah gerakan (komuniti) keagamaan, fundamentalis dipahami sebagai penganut gerakan keagamaan yang bersifat tindak balas, yang memiliki doktrin untuk kembali kepada ajaran agama yang asli seperti tersurat dalam kitab suci.

Kontroversi mengenai istilah “fundamentalisme” berasal dari kenyataan bahawa istilah tersebut bukan berasal dari Islam atau agama-agama lainnya, melainkan berasal dari agama Kristian Protestan. Pandangan dasar yang menandai gerakan fundamentalisme protestan ini adalah bahawa orang yang  harus berpegang teguh pada kitab suci secara literal, lebih-lebih dalam menghadapi pandangan evolusinisme Darwin yang pada saat itu ramai dibicarakan oleh agamawan.

Tetapi, walaupun asal usul istilah fundamentalisme itu bukan berasal dari Islam, sebagian sarjana yang dapat menerimanya untuk dipakai dalam rangka menjelasakan fenomena tertentu dari gerakan Islam dengan catatan bahawa istilah itu tidak dipakai sebagai cap atau label untuk merendahkan islam sebagaimana yang sering kali dilakukan oleh media massa melainkan sebagai sebuah konsep akademik yang neutral.

Dalam kamus-kamus lama, baik kamus bahasa maupun kamus istilah, disebutnya istilah  ushuliyah  “fundamentalisme”. Kita hanya mendapatkan kata dasar istilah itu, yaitu al-ashlu  dengan makna “dasar sesuatu “ dan “kehormatan” . Istilah pluralnya adalah ushul.  Dalam Al-Qur’anul Karim disebutkan. Berikut beberapa Ayat yang berkaitan dengan hal tersebut.

Ertinya:

" Mana-mana jua pohon kurma (kepunyaan musuh) yang kamu tebang atau kamu biarkan tegak berdiri seperti keadaannya yang asal, maka yang demikian adalah dengan izin Allah (kerana Ia hendak memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin), dan kerana Ia hendak menimpakan kehinaan kepada orang-orang yang fasik" - ( Al- Hasyr : 5 )

"Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala" -  ( As-saffat : 64 )

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit" - ( Ibrahim: 24 )

Dari ayat diatas, warisan keilmuan islam dan peradabannya, serta kamus-kamus arab yang tidak mengenali istilah ushuliyah ‘fundamentalisme’ dan pengertian-pengertian yang dikenal Barat atas istilah ini. Agama Islam sebagai sebuah institusi kebenaran yang dijustifikasi oleh seluruh lapisan sosial, memainkan peranan penting bagi kelangsungan gerakannya dan menjadi sebuah mekanisme dalaman yang terpenting dalam perkembangannya, karena terdapat sebahagian doktrin yang dirumuskan dalam sebuah maksud dan tujuan gerakan yang diantaranya adalah fundamentalisme yang digunakan untuk menyebut gerakan keagamaan dalam berbagai penulisan karya, telah menjadi istilah yang sangat popular dan bahkan kontroversi. Meskipun pada mulanya fundamentalisme menunjuk sebuah fenomena gerakan Kristian Protestan, namun sekarang istilah ini secara luas dipakai untuk menyebut gerakan yang terjadi dikalangan masyarakat  Islam, Katolik, (sunni, syiah), Yahudi, Hindu Budha dan Zoroaster.

Meskipun demikian, jika makna fundamentalisme itu ditekankan pada keaslian sumber serta prinsip-prinsip dasar ajaran Islam terdapat kelompok kecil aliran pemikiran dalam Islam, tapi secara intelektual sangat penting, yang boleh diterjemah sebagai fundamentalisme. Kelompok ini berpendapat bahwa Al-Quran  dan Sunnah merupakan sumber utama ajaran Islam dan terikat untuk dilaksanakan dalam kehidupan seharian bahawa pemikiran keagamaan klasik dan pertengahan tidak terikat bahawa dalam beberapa jenis pemikiran ini mengakibatkan kemalasan berfikir dalam islam sepanjang tempoh perkembangan Islam. Ramai pembesar Islam yang mengamalkan cara yang tidak islamik dan adapun tarekat sufi yang paling tidak mengamalkan ajaran yang tidak islamik. Setiap muslim haruslah mempelajari dan mengamalkan Al-Quran dan Sunnah serta menghilangkan taqlid buta, karena ini menyebabkan kemunduran umat Islam itu sendiri.





0 comments:

Post a Comment